Wednesday, January 4, 2012

Letupan Senjata di Udara

Manusia memiliki insting binatang, tidak ada cara untuk memungkiri hal itu. Salah satu insting yang kita miliki adalah insting bertahan hidup. Kita hidup untuk bertahan dan pada suatu titik tertentu kita tak lebih kuat dari seonggok daging dan tulang. Hal inilah yang mendasari kebutuhan mendasar manusia, yaitu perasaan aman dan terlindungi. Skala dari rasa ini teramplifikasikan oleh interaksi antar manusia itu sendiri dalam sebuah komunitas/kelompok. Namun ketakutan muncul saat ada sesuatu yang tidak diketahui, tidak terjamah, tidak teraba, tidak terkira maupun tidak terlihat. Rasa takut tersebut direpresi baik oleh individu maupun kelompok dengan persiapan. Dalam skala negara, persiapan ini disebut dengan pertahanan nasional. Dan hal ini bisa menjadi sebuah piala yang diperebutkan oleh tiap negara di belahan bumi manapun.

Pertahanan nasional diwujudkan dalam bentuk daya dari militer negara tersebut, seperti sebuah etalase kekuatan yang dapat menimbulkan efek kengerian. Faktor kengerian inilah yang merupakan kata kunci dari pertahanan nasional itu sendiri karena kengerian merupakan dasar dari kemunculan rasa aman dari pihak itu sendiri. Bahkan, masalah pertahanan nasional bisa dianalogikan secara kasar seperti mengacungkan senjata di tengah kerumunan dimana friksi ultrapanas adalah laten. Bukti nyatanya adalah Cold War antara Amerika dan USSR. Kejadian ini dikarenakan oleh dua kubu yang saling merasa terancam maupun tersaingi karena memiliki kekuatan yang setara, dalam hal ini kekuatan itu berupa hulu ledak nuklir.

Paranoia akan kekuatan yang menyaingi akan terus ada hingga pada akhirnya paranoia itu akan mengkonsumsi manusia itu sendiri. Ini adalah sebuah lingkaran, dimana manusia akan menimbulkan rasa aman dengan mengobral kengerian, yang kemudian dibalas dengan hal yang sama, untuk selanjutnya dibalas dengan hal yang sama lagi.

Inti dari tulisan ini cukuplah sederhana, apa perlu kita hidup dengan paradoks ini?

Apakah pada akhirnya kita harus kembali menjadi binatang hanya untuk menjadi beradab menurut paham kita? 

Tuesday, September 27, 2011

Sedang Buntu

Untuk sementara postingan rehat dulu karena alasan sesuai judul, haha.

Friday, September 2, 2011
We do not conform life nor do we fight it, we’re just going through it.
Wednesday, August 31, 2011

Teknosentrisme

Kemudahan dalam melakukan atau mendapatkan sesuatu itu sungguh menggiurkan. Ini adalah kalimat opini dan sejarah sebagai ibu kandungnya. Contoh mudahnya, komputer pertama yang bekerja dengan algoritma biner dan dipakai NASA untuk menghitung dan mencari solusi berbagai persoalan matematis rumit dari trajektori orbit Appolo 11 yang ditunggangi Neil Armstrong untuk ke bulan bernama ENIAC, sekarang piranti apa yang kita pegang buat melihat artikel ini? Personal computer, kebanyakan mungkin laptop atau bahkan tablet yang akhir - akhir ini sedang happening. Lihat betapa kemudahan itu merevolusi bagaimana kita terhubung satu sama lain, dimana hal besar yang mempunyai bagian ini adalah aspek sosial. Informasi yang ada mengalir deras dari belahan bumi satu ke belahan bumi lainnya dengan begitu mudahnya, hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini terwujud karena adanya evolusi teknologi yang dimana bukti konkritnya sudah saya jabarkan sebelumnya. Saya tidak menyebutnya dengan revolusi teknologi karena kita teknologi berkembang berdasrkan kebutuhan manusia dan perkembangan tersebut selalu menambahkan atau menawarkan sesuatu yang baru sehingga kita tidak berputar di lingkaran yang sama, kita bergerak maju. Hal yang bernama teknologi ini sebegitu pentingnya dalam kehidupan manusia bahkan teknologi yang evolusioner (kembali lagi, ini adalah istilah saya) bisa dianggap sebagai sebuah milestone, pencapaian, prasasti atau stupa sebuah komunitas yang menemukannya, bahkan untuk peradaban manusia jelata. Karena inilah, teknologi sudah menjadi kancah persaingan sejak dahulu kala, atau dalam prokem bahasa Inggris disebut arms race. Kenapa saya merujukkan arms sebagai teknologi, bukan senjata? Karena teknologilah tuan dari senjata tersebut.

Dibalik semua euforia teknologi ini, mindset untuk bersaing dimana tujuan utamanya adalah kemakmuran peradaban kemanusiaan tenggelam dalam kubangan konsumerisme yang timbul karena keterlenaan kita oleh buaiannya. Kita tidak harusnya bersikap hipokrit atau mengelak, kita harus mawas diri, tak terkecuali aku dan kamu.

Thursday, August 18, 2011

Kultur

Tata krama, tepo sliro, unggah - ungguh, manners diberikan ke kita sejak dari kecil. Orangtua, guru serta lingkungan - lingkungan di sekitarnya memberi nilai - nilai dari tata krama, sekecil apapun itu. Kalau dilihat dari arti harfiahnya di KBBI, tertulis “adat sopan santun; basa - basi”. Nah, pertanyaan yang mencuat di kepala saya sekarang adalah: “Jika memang artinya seperti itu, seperti apa tata krama sekarang?”. Bukannya retoris, tapi pertanyaan itu mungkin bisa dimaklumi oleh sebgaian orang mengingat waktu memang terus berjalan dan jaman selalu berubah, berapa lamapun waktu yang dibutuhkan.

Tata krama yang merupakan bagian dari kultur di tiap suku, bangsa bahkan negara ada di lingkungan sekarang ini sudah bisa kita lihat sendiri, mikro maupun makro, adalah warisan yang terus dipegang turun - temurun dengan sedikit twist. Twist itu sendiri adalah pergeseran dari yang sudah ada sebelumnya, dan pergeseran itu terjadi karena keterbukaan antarkultur yang semakin, tentunya, terbuka karena semakin mudahanya keinterkoneksian secara global. Akulturasi yang terjadi begitu masif dan bahkan mengubah pola pikir yang sebelumnya, sehingga pola pikir sebelumnya tersebut jarang digunakan atau bahkan dilabeli dengan “ortodoks” maupun “konservatif” hingga “ketinggalan jaman”. Lalu apa arti dari label - label ini? Jika saya menerjemahkannya, mungkin yang dimaksud adalah mengganti bagian - bagian kecil dari yang ada sebelumnya dengan bagian - bagian baru yang dianggap lebih relevan atau diterima untuk sekarang. Nah! Sekarang muncul pertanyaan baru lagi nih: “Relevan bagaimana?”. Relevan bisa dianggap relatif terhadap sesuatu, dimana sesuatu itu berupa kondisi. Muncullah pertanyaan baru: “Apakah kultur kita harus terombak bahkan sampai ke jantungnya agar tetap relevan dengan kondisi yang sekarang?”. Kalau kata saya ya dan tidak. Ya untuk perombakan, namun tidak sampai ke jantungnya. Nah, jantung dari kultur itu adalah jantung dari sebuah kumpulan yang memahfumi kultur yang sama. Jika jantung ini berubah, maka berubahlah seluruhnya. Sama halnya dengan Indonesia sekarang ini. Arah dari negara ini masih belum cukup terarah dan arah itu sendiri adalah representasi dari kultur yang ada. Dengan menegaskan arah kemana negara kita menuju, pengkonkritan kultur pun bisa terwujud dan kita punya jati diri yang jauh, jauh lebih solid dan terdefinisi dengan baik dari sebelumnya.

Monday, August 8, 2011

Hibernasi, salah satu cara paling nikmat buat nghabisin liburan.

Bersosialisasi, salah satu cara memanfaatkan liburan yang benar.

Surfing internet, salah satu cara membuang - buang waktu liburan sambil mikir harus ngapain selanjutnya DAN salah satu godaan terbesar deadliners.

Otak, barusan aja kok.
Wednesday, August 3, 2011
fuckyeahmahasiswa:

ketika yang di luar lebih berkuasa…
-dari dekbenny

fuckyeahmahasiswa:

ketika yang di luar lebih berkuasa…

-dari dekbenny

Dibunuh mimpi.

Will power atau kadang orang merefer dengan power of will (terserah lebih suka mana) itu bensin jiwa. Tanpa itu kita cuma benda mati.

Tapi apa jadinya kalau kendaraan yang dalam hal ini merupakan analogi dari tubuh tanpa bensin yang menggerakkan?

Bisa aja ngecer di pinggir jalan kalo kepepet. Oke, ngelantur, balik lagi. Apa jadinya orang yang hanya punya sedikit atau bahkan kehabisan power of will? Dia ngadat, ngelamun gak karuan, pikiran wara - wiri entah kemana atau bahkan nulis e-journal semacam ini (siapa tahu, bukan bermaksud merendahkan penulis lain atau bersikap terlalu kecil hati). Sama halnya orang yang mendapati realita jauh dari tepukan awang. Lambat laun bensin tersebut bocor dari tangkinya tanpa tergantikan dan pada suatu titik kendaraan itu akan berhenti. Pada titik itu pula kadangkala orang menoleh ke jalan yang lain, jalan yang sebenarnya bisa diambil pada saat percabangan namun terlihat “gelap dan tak berujung”. Saat orang tersebut mencoba berjalan ke jalan tersebut, ia merasa seperti tak berdaya menempuh medan di jalan tersebut, padahal ia pernah menempuh jalan yang kurang lebih sama sebelumnya. Ia merasa kecil, terkulai, bergemertak sejadi - jadinya seperti melihat Izrail numpang lewat sambil ngomong “Oya coi, waktunya gak lama lagi, cepet tobat ya”. Ia tahu, ujung kedua jalan itu adalah tujuan yang dia inginkan, namun ia sudah tunduk pada hasrat yang habis ditelan waktu dan peluh perjalanan. Saat itu juga ia menyadari suatu fakta semu bahwa ia bukanlah apa - apa di jalan itu. Dia sangat tahu jika kedua jalan itu mau mereka bisa mengubah dagingnya menjadi debu, kulitnya menjadi abu dan tulangnya menjadi sup konro. Manifestasi fakta semu itu pula yang membuatnya berpikir ia tidak mempunyai supremasi terhadap apapun dan siapapun, bahkan dirinya sendiri.

Bukannya dengan tulisan ini saya ingin menunjukkan ada tulisan “melankolis” atau “emo” di jidat saya atau bagaimana, namun ini hanyalah ungkapan kebingungan, bisa dibilang sebagai salah satu jalan agar tidak bingung.

Saturday, June 25, 2011

Inget-inget pesen nenek…

fuckyeahmahasiswa:

dari blitzy_3rd

HAHAHA, janji mak! *dengkul bergetar

(Source: fuckyeahmahasiswa)

Sunday, June 19, 2011
percayalah kawan, lelah ini hanya sementara.

dari spanduk di gerbang belakang

by dotridame

(via fuckyeahmahasiswa)

(Source: fuckyeahmahasiswa)